Lengkapi Hidupmu dengan Sunah Nabimu
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menciptakan kita, memudahkan urusan-urusan kita, serta melimpahkan nikmat yang tak terhitung, mulai dari detak jantung hingga hembusan napas yang kita hirup setiap saat. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia terbaik yang pernah ada, pembawa risalah kebenaran, dan teladan sepanjang zaman.
Nikmat Ilmu dan Majelis Ilmu
Di antara nikmat besar dari Allah adalah ketika hati seorang hamba dimudahkan untuk mencintai ilmu, mencintai majelis ilmu, dan mencintai para ahli ilmu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan menjadikannya paham dalam urusan agama.”
Ilmu agama adalah cahaya yang menerangi kehidupan. Dengannya, seorang muslim dapat membedakan mana jalan menuju surga dan mana jalan menuju neraka. Bahkan Rasulullah menjelaskan bahwa jalan termudah menuju surga adalah dengan menuntut ilmu.
Hidup Sebagai Ibadah
Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Seorang muslim seharusnya menjadikan seluruh aktivitas sehari-harinya bernilai ibadah, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Caranya adalah dengan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, meneladani cara beliau beraktivitas, serta meniatkan semua perbuatan untuk meraih ridha Allah.
Ibadah bukan hanya shalat, puasa, atau membaca Al-Qur’an, melainkan segala sesuatu yang dicintai Allah, baik ucapan maupun perbuatan, lahir maupun batin. Dengan niat ikhlas dan mengikuti sunah Rasulullah, aktivitas sehari-hari dapat bernilai ibadah.
Pentingnya Mengikuti Sunah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap pertemuan dengan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Mengikuti sunah Nabi adalah bukti cinta kepada beliau sekaligus jalan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Sayangnya, di era media sosial banyak waktu terbuang sia-sia untuk hal yang tidak bermanfaat, bahkan bisa menyeret kepada maksiat. Karena itu, umat Islam perlu lebih bijak menggunakan waktu dan mengisinya dengan amal yang dicontohkan Rasulullah.
Teladan Para Sahabat dalam Mengamalkan Sunah
Para sahabat dan ulama salaf sangat semangat mengamalkan sunah, baik yang wajib maupun yang mustahab. Mereka tidak membedakan keduanya dalam hal semangat untuk menjalankannya.
Salah satu contohnya adalah hadis Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha. Beliau mendengar langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Barang siapa yang shalat sunnah rawatib 12 rakaat dalam sehari semalam, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim)
Setelah mendengar hadis ini, Ummu Habibah tidak pernah meninggalkan amalan tersebut seumur hidupnya. Demikian pula para perawi setelahnya, hingga hadis ini sampai kepada kita.
Contoh lain adalah kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah radhiyallahu ‘anhuma. Ketika mereka meminta pembantu kepada Rasulullah, beliau justru mengajarkan amalan zikir sebelum tidur:
-
Takbir 34 kali
-
Tasbih 33 kali
-
Tahmid 33 kali
Zikir ini, kata Rasulullah, lebih baik daripada pembantu karena mendatangkan kekuatan dan energi dalam kehidupan sehari-hari. Ali bin Abi Thalib menegaskan bahwa beliau tidak pernah meninggalkan amalan ini, bahkan di malam perang sekalipun.
Menjadikan Sunah sebagai Gaya Hidup
Dari teladan para sahabat, kita belajar bahwa ilmu harus diamalkan. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Menjalankan sunah bukan hanya soal pahala, tetapi juga keberkahan hidup, kekuatan hati, dan ketenangan jiwa.
Hidup hanya sekali, tetapi setelah itu ada kehidupan akhirat yang kekal. Dunia adalah ladang untuk menanam amal, sementara akhirat adalah tempat menuai hasilnya. Maka jadikanlah setiap detik kehidupan sebagai kesempatan untuk meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan memperbanyak amal saleh.

