Amalan Sunah Rasulullah dalam Sehari Semalam
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita yang mulia, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga dan sahabat-sahabat beliau.
Alhamdulillah, Allah kembali memberikan kita kesempatan untuk duduk di majelis ilmu. Semoga pertemuan ini menjadikan hidup kita berkah, menambah kecintaan kita kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, serta menguatkan langkah kita dalam meneladani sunah-sunah beliau agar kita meraih cinta Allah dan Rasul-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran: 31)
Wasiat Ulama: Jangan Tinggalkan Sunah
Dalam kitab Al-Minhah al-‘Aliyah fi Bayani as-Sunan an-Nabawiyah, penulis memberikan nasihat yang indah:
“Janganlah engkau meninggalkan satu sunah pun setelah engkau mengetahuinya. Hendaknya engkau memiliki bagian dalam mengamalkannya, walaupun hanya sekali seumur hidup.”
Imam an-Nawawi rahimahullah juga mengatakan:
“Barang siapa yang mengetahui keutamaan suatu amalan dari amalan-amalan Nabi, hendaknya ia berusaha mengamalkannya meski hanya sekali saja, agar tercatat sebagai orang yang pernah melaksanakannya.”
Artinya, jangan sampai kita tahu sebuah sunah hanya sebatas pengetahuan, tanpa pernah mengamalkannya.
Sunah-Sunah yang Berkaitan dengan Waktu
Penulis kitab membagi amalan sunah Nabi dalam sehari semalam ke dalam tujuh waktu:
-
Sebelum fajar
-
Waktu fajar
-
Waktu dhuha
-
Waktu zuhur
-
Waktu asar
-
Waktu magrib
-
Waktu isya
Pada kesempatan ini, pembahasan difokuskan pada sunah Nabi sebelum terbit fajar, dimulai dari bangun tidur.
Amalan Nabi Setelah Bangun Tidur
1. Bersiwak
Hadis dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menyebutkan:
“Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bangun dari tidur malam, beliau bersiwak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitu pula ketika hendak salat malam, Rasulullah terlebih dahulu bersiwak. Hal ini menunjukkan betapa Islam sangat menekankan kebersihan, khususnya mulut.
Bahkan, Rasulullah bersabda:
“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali salat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Siwak termasuk sunah muakkadah, yakni sunah yang sangat ditekankan. Rasulullah senantiasa membawanya ke mana-mana, sebagaimana kita hari ini membawa HP. Bahkan Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya:
“Apa yang pertama kali dilakukan Rasulullah ketika masuk rumah?”
Beliau menjawab: “Bersiwak.”
Siwak memang bisa diwakili dengan sikat gigi, namun ada keutamaan khusus yang hanya ada pada siwak. Karenanya, para ulama menganjurkan untuk sesekali mengamalkan sunah ini dengan siwak yang asli.
Rasulullah juga bersabda:
“Siwak itu membersihkan mulut dan mendatangkan keridaan Rabb.” (HR. Ahmad)
2. Membaca Doa Bangun Tidur
Hadis dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika bangun tidur membaca doa:
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya lah tempat kembali.” (HR. Bukhari)
Tidur adalah “saudara kematian”. Maka ketika Allah mengembalikan ruh kita setelah tidur, itu berarti kita diberi kesempatan baru untuk beribadah, bertobat, dan memperbaiki diri. Karena itu, doa ini merupakan bentuk syukur sekaligus benteng dari godaan setan.
Setan selalu berusaha mendekam di hati manusia. Rasulullah bersabda:
“Setan berdiam di hati anak Adam. Jika ia mengingat Allah, setan itu menjauh. Jika ia lalai, setan membisikkan (godaan).”
Zikir menjadi benteng seorang muslim dari godaan setan, sekaligus sumber ketenangan hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Zikir dan Hati yang Hidup
Ibn Taimiyah rahimahullah berkata:
“Zikir bagi hati itu seperti air bagi ikan. Bagaimana kondisi ikan jika dijauhkan dari air? Ia akan sakit dan akhirnya mati. Begitu pula hati yang dijauhkan dari zikir.”
Karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berzikir dalam setiap kondisi beliau. Zikir bukan hanya amalan tambahan, melainkan kebutuhan ruhani.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahkan mendefinisikan takwa dengan salah satunya: “Selalu ingat Allah dan tidak melupakannya.”
Penutup
Dari pembahasan kali ini kita belajar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memulai hari beliau dengan amalan-amalan sederhana namun penuh makna: bersiwak dan berzikir.
Amalan ini ringan, sering kali diremehkan, tetapi di sisi Allah memiliki nilai yang besar, hingga dapat menjadi sebab keridaan-Nya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kita taufik untuk menghidupkan sunah-sunah ini dalam kehidupan sehari-hari.
